Renungan Ramadhan : Agar Ramadhan penuh makna
Renungan Ramadhan. Saudaraku, Hilal bulan Syaban telah hadir menjelma. Sebuah tanda besar bahwa semakin dekatnya pertemuan kita dengan Sang Bulan Nan Agung, Tamu Mulia Bulan Ramadhan. Harus ada keistimewaan yang kita tunjukkan dalam rangka menyambut tamu mulia ini. Tamu yang telah kita nantikan bersama sejak tahun lalu. Selayaknya kita berdandan dan memantaskan diri dlm menyambut datangnya seorang tamu agung, maka hal yang sama pun selayaknya kita lakukan untuk Bulan Suci Ramadhan. Bulan yang menjanjikan ampunan dosa dan pembebasan dari api neraka.
Sepatutnya kita kini sering-sering melontarkan pertanyaan pada diri kita, seiring usia yang kian berkurang, badan yang mulai renta, rambut yang kian memutih.. Sudah berapa banyak amal kebaikan yang kita investasikan. Oleh karena itu, maka tidak salah kita kembali melakukan renungan ramadhan. Membahas kembali hal-hal yang menyemangati hati dalam menyambut ramadhan.
Saudaraku, agar Ramadhan tak berlalu begitu saja. Agar ketika ia pergi kita telah meraih pahalanya, agar puasa dan ibadah di dalamnya menjadi pemompa ruhiyah kita, setidaknya kita perlu memperhatikan Renungan Ramadhan berikut ini :
- Sambutlah Ramadhan dengan semangat ibadah yang tinggi dan kerinduan yang mendalam. Seakan kita akan bertemu dengan tamu yg kita telah nantikan sekian lama, bersiaplah untuk menyambutnya. Pastikan semangat itu telah terpasang rapih dengan memperbanyak dan meningkatkan kualitas ibadah dan puasa di bulan Syaban ini.
- Perbanyaklah berdoa pada Allah, agar kita termasuk dalam hamba-hambaNya yang ditakdirkan bisa bertemu dengan bulan Ramadhan. Sebab bertemunya kita dengan Ramadhan adalah karena Rahmat dan KuasaNya. Betapa banyak, saudara, sahabat dan handaitaulan yang beberapa waktu lalu masih bersama kita, tapi kini ia telah tiada.
- Jika kita telah bertemu dengan Ramadhan, bersyukurlah, dan pintalah pertolongan dan bimbingan dariNya agar Allah memudahkan diri ini untuk beribadah dan meningkatkan amal ibadah dan kebajikan di bulan penuh rahmat. Dan menjadikan ketakwaan sebagai tujuan tertingginya paska Ramadhan.
- Tolak ukur keberhasilan Ramadhan kita adalah bukan banyaknya sedekah yang kita keluarkan, bukan berapa banyaknya AlQuran yang kita khatamkan, bukan banyaknya rukuk dan sujud yang kita tunaikan, bukan banyaknya kajian dan buka puasa bersama yang kita hadiri. Tapi tolak ukur dari Ramadhan adalah dikala ia mampu melahirkan ketakwaan. Ketakwaan yang baru atau ketakwaan yang kian membaja dalam jiwa!
- Tingkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadhan, bukan hanya kuantitas yang kerap menipu. Jadikan tiap lembaran harta yang kita infaqkan sebagai penyelamat kita dari pedihnya siksa jahannam. Jadikan tiap sujud dan rukuk kita menjadi sujud dan rukuk terbaik dalam hidup kita. Sujudlah sujud terbaik. Baktilah pada orangtua dengan bakti terbaik, tilawahlah dengan penuh tadabbur agar menjadi penasihat jiwa dan penyemai taqwa.
- Jangan lalai dari tiap detik, menit, jam dan hari bahkan pekan dari bulan penuh pahala dan kebaikan ini. Jika jasad ini lelah dari ibadah, biarlah lisan ini basah dengan tilawah atau dzikir padaNya. Jika sholat yang tidak khusyuk itu kadang menyebabkan orang yang shalat itu lupa bilangan rakaatnya, orang yang lengah di bulan Ramadhan pun kadang ia lupa bahwa Ramadhan akan segera berakhir, bahkan ia tidak ingat jika ia berada di penghujung Ramadhan tanpa ada amalan yang ia lakukan dengan maksimal. Jadikan Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhirmu!. Ramadhan yang terbaik untuk memberatkan timbangan kebaikan jika kelak menghadap padaNya di Hari Penghisaban.
- Istimewakan Ramadhan ini dengan amal istimewamu!. Luangkan waktu untuk beri'tikaf. Panjangkan sujud malammu, limpahkan segala doa dan munajatmu padaNya. Bukalah lembaran putih yang baru, hubunganmu bersama Allah dan semua insan yang ada disekitarmu. Pasangan hidup, orangtua, sahabat, tetangga dan handaitaulan!
Demikian Renungan Ramadhan ini. Semoga Ramadhan kali ini akan menjadi Ramadhan yang bermakna. Ramadhan yang memperbaharui hubungan kita pada Allah Ta'ala, pada istri/suami dan ahli keluarga kita. Ramadhan yang melahirkan ketakwaan pada jiwa ini hingga kelak menapaki syurgaNya.
28 hari menatap Ramadhan mulia...
Abu Ikrimah, 2 Syaban 1436 H
Comments
Post a Comment