Hati yang Sakit
Pada kesempatan kali ini kita membahas tentang Hati yang Sakit. Di dalam artikel ini kami mencoba menyampaikan informasi lengkap tentang Hati yang Sakit. Kami telah menyusun artikel kali ini dengan seksama. Harapannya melalui artikel ini mampu memahamkan kita semua tentang Hati yang Sakit dengan baik.
Hati yang Sakit
Syaqiq bin Ibrahim pernah menuturkan:
Pernah suatu ketika Ibrahim bin Adham melewati pasar kota Bashrah, lalu orang-orang pun mengerumuninya. Kemudian mereka berkata: “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah telah berfirman dalam kitab-Nya:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.(QS. Ghafir: 60)
"Kami telah berdo’a kepada-Nya sejak sekian lama, akan tetapi Ia belum mengabulkannya.”
Maka Ibrahim bin Adham pun menimpali:
“Wahai penduduk Bashrah! Hati kalian telah mati dalam (10) sepuluh hal:
Pertama, kalian mengenal Allah tapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.
Ke 2, kalian membaca kitab-Nya tapi tidak mengamalkannya.
Ke 3, kalian mengaku cinta Rasulullah namun sunnahnya kalian tinggalkan.
Ke 4, kalian mengaku memusuhi setan tapi kalian malah menyetujuinya (mengikuti langkahnya).
Ke 5, kalian katakan: ‘Kami cinta (ingin masuk) surga,’ akan tetapi kalian enggan beramal untuk (menggapai)nya.
Ke 6, kalian katakan: ‘Kami takut (masuk) neraka,’ tapi kalian justru menggadaikan diri kalian kepadanya.
Ke 7, kalian mengatakan: ‘Sesungguhnya kematian itu adalah sesuatu yang haq (pasti),’ tetapi kalian tidak mau bersiap menyambutnya.
Ke 8, kalian sibuk dengan aib-aib saudara kalian namun aib sendiri kalian campakkan.
Ke 9, kalian makan (habiskan) nikmat Rabb kalian tapi kemudian tidak kalian syukuri.
Ke 10, kalian kubur orang-orang yang mati di antara kalian tapi kalian tidak mengambil pelajaran dari mereka.”
Demikian tadi adalah artikel tentang Hati yang Sakit. Kami berharap yang sedikit ini mampu menambah wawasan kita semua. Juga semoga artikel tentang Hati yang Sakit ini memberi manfaat untuk kita semua. Silahkan bagikan artikel ini kepada orang lain jika menurut anda artikel ini akan berguna bagi orang lain juga. Anda juga bisa berlangganan di blog kami melalui email jika anda berkenan. Terimakasih sudah berkunjung di blog kami.
(Mawa’izh al-Imam Ibrahim bin Adham hal: 51-52) - Zahir Abu Zaid al-Minangkabawi
Comments
Post a Comment