Semua Agama Sama, Benarkah? Ini Penjelasannya

Sponsored Links:
Sponsored Links:

Semua Agama Sama, benarkah seperti itu? Banyak orang mengatakan bahwa agama sama. Bagaimana Islam membahas terkait hal ini? Berikut ini adalah penjelasan dari Ustadz Farid Nu'man Hasan SS.


semua agama sama



Semua Agama Sama, Benarkah?


Sebagian orang menghembuskan syubhat pemikiran dengan melontarkan pernyataan yang menipu bahwa semua agama sama. Mungkin, pemahaman ini diawali karena semua agama mengajarkan kebaikan, anti kekerasan, mengajarkan kepedulian dan sebagainya, yang memang secara universal dianut oleh semua manusia, bahkan atheis pun juga demikian.


Kadang mereka juga menganggap bahwa Tuhan semua agama sama, namanya saja yang beda, serta jalan menujuNya yang berbeda. Sehingga prinsip pokoknya adalah sama, menuju Tuhan yang sama.


Pemikiran ini disambut oleh orang-orang liberal bahkan mereka menjadi propagandisnya, dan membuat goyah oleh orang-orang awam yang lemah basic agamanya.


Ini pemahaman tertolak dan batil. Dalam Islam, standar yang digunakan bukan hanya “baik dan buruk”, tapi juga “benar dan salah.” Semua agama mengajarkan kebaikan, bisa jadi iya, walau ada juga “agama” yang mengajarkan kejahatan. Tapi, apakah semua agama adalah benar? Tidak! Al Quran dan As Sunnah, sebagai pedoman utama umat Islam, menolak pemahaman itu. Bahkan sejarah nabi dan akal sehat pun menolaknya.


Sayangnya, orang-orang seperti ini tidak pernah mau menyandarkan dirinya kepada para ulama, pewaris para nabi, di mana Allah ﷻ memerintah manusia untuk bertanya kepada mereka, karena para ulama adalah ahlinya. Dan, siapa pun yang menyandarkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka akan datang kebinasaan. Inilah yang terjadi. Mereka lebih mengikuti akalnya yang rendah dan hawa nafsu yang kotor, serta bimbingan para musuh-musuh Islam yang memang hobi melakukan tasykik (peragu-raguan) dan tasywih (distorsi) terhadap Islam, di antaranya dengan menyebut semua agama adalah sama. Mereka pun secara koor menyambutnya, taklid buta kepada para propagandisnya, yang dibungkus dengan nama-nama memukau; modernitas, pembaharuan, reaktualisasi, padahal yang mereka lakukan hanyalah tabdid (perusakan). Allahul Musta’an!



Apa kata Al Quran?


Berikut ini pernyataan Allah ﷻ dalam Al Quran yang menolak pemahaman mereka:


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ


"Dialah (Allah) yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar yang akan memenangkan agama itu di atas agama-agama semuanya, walau orang-orang musyrik membencinya." (QS. Ash Shaf: 9)


Dalam ayat ini, Allah ﷻ katakan “Dinul Haq” – agama yang benar, bukan sekedar agama yang baik. Dan, tidak lain dan tidak bukan, Dinul Haq adalah Islam sebagaimana diterangkan oleh ayat-ayat yang lain.
Misalnya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ


"Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam."
(QS. Ali ‘Imran: 19)


Islam dalam ayat ini bukanlah sekadar makna bahasa yang bermakna tunduk dan patuh, seperti dugaan kaum liberal, yang dengan itu mereka anggap siapa pun yang tunduk dan patuh maka hakikatnya dia Islam, baik dia Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, dan lainnya.


Makna Islam di sini adalah Islam dalam artian “agama Islam”. Sebagaimana penjelasan Nabi ﷺ dalam hadits Shahih Muslim, ketika Nabi ﷺ ditanya “Wahai Muhammad, ajarkan kepadaku tentang Islam”, maka Nabi ﷺ menjawab:


الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله،وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ،وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً


Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.
(HR. Muslim No. 8)


Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:


إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم، فمن لقي الله بعد بعثته محمدًا صلى الله عليه وسلم بدِين على غير شريعته، فليس بمتقبل


Allah ﷻ mengabarkan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seorang pun kecuali agama Islam, yaitu mengikuti para rasul yang diutus Allah ﷻ pada tiap zaman, sampai penutup mereka, Muhammad ﷺ, yang telah melurukan semua jalan kepadaNya, kecuali dari arah Nabi Muhammad ﷺ. Maka, siapa saja yang berjumpa dengan Allah ﷻ setelah pengutusan Muhammad ﷺ dalam keadaan bergama bukan syariatNya, maka dia tidak akan di terima. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/25)


Kenapa tidak diterima? Karena yang diterima adalah hanya Dinul Haq, dan Dinul Haq hanya Islam, seandainya yang lain adalah Dinul Haq tentu Allah ﷻ akan menerimanya. Tapi, faktanya mereka bukan Dinul Haq, mereka Dinul Batil, dan keduanya berbeda alias tidak sama. Kalau sama, tentu semua agama akan Allah ﷻ diterima, tapi kenyataannya tidak, hanya Islam.


Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh ayat:


وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ


"Barang siapa yang mencari agama selain Islam maka selamanya tidak akan pernah diterima darinya (agamanya itu), dan dia di akhirat termasuk golongan merugi."
( QS. Ali ‘Imran: 85)


Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:


من سلك طريقًا سوى ما شَرَعَه الله فلن يُقْبل منه


Barang siapa yang menempuh jalan (agama) selain apa-apa yang disyariatkan Allah (yakni Islam) maka selamanya tidak pernah diterima. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/70)


Imam Ath Thabari Rahimahullah menjelaskan pula:


ومن يطلب دينا غيرَ دين الإسلام ليدين به، فلن يقبل الله منه


Barangsiapa yang mencari agama selain Islam sebagai agama baginya, maka selamanya Allah tidak akan menerimanya. (Jami Al Bayan, 6/570)


Dalam ayat lainnya:


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah sempurnakan nikmatKu atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi kalian." (QS. Al Maidah: 3)


Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:


عن ابن عباس قوله: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } وهو الإسلام، أخبر الله نبيه صلى الله عليه وسلم والمؤمنين


Dari Ibnu Abbas, bahwa firmanNya (Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian): itu adalah Al Islam, Allah ﷻ telah mengabarkan kepada NabiNya ﷺ dan kaum mu’minin. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/26)


Dalam Al Quran, Allah ﷻ menyebut Nasrani dan Yahudi adalah kafir, kalau memang mereka sama, kenapa Allah ﷻ menyebut mereka kafir? Maka, ini menunjukkan kelirunya pandangan mereka.


Tentang kafirnya Nasrani, Allah Ta’ala berfirman:


لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ


"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih." (QS. Al Maidah (5): 72-73)


Tentang kafirnya Yahudi, Allah Ta’ala berfirman:-


وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ


"Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putra Allah' dan orang Nasrani berkata: 'Al Masih itu putra Allah'. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknati mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. Al Taubah (9): 30)


Demikianlah keterangan Al Quran tentang kafirnya Ahli kitab; Yahudi dan Nasrani.


Ada pun kafirnya Ahli Kitab dan Musyrikin, telah disebutkan secara gamblang dalam dua ayat berikut:


لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ


"Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata." (QS. Al Bayyinah: 1)


Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ


"Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (QS. Al Bayyinah: 6)


Begitulah nasib orang-orang kafir baik Ahli Kitab dan Musyrikin, ... sedangkan kaum mu’minin yang beriman kepada Allah ﷻ dan RasulNya, tidak sama dengan mereka.


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ


"Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, mereka itulah sebaik-baiknya makhluk."
(QS. Al Bayyinah : 7)


Maka, mari gunakan akal sehat ... apakah sama antara syarrul bariyyah (makhluk terburuk) yaitu penganut Ahli Kitab dan Musyrikin, dengan Khairul Barriyah (makhluk yang terbaik)?


Bagaimana mereka begitu berani menyamakan dua kelompok manusia (kafir dan mu’min) padahal Allah ﷻ membedakan mereka?


Inilah Dinul Haq, yaitu Al Islam. Masih sangat-sangat banyak lagi ayat-ayat Al Quran yang menunjukkan bahwa Islam tidak sama dengan mereka. Namun, ayat-ayat ini sudah cukup untuk menetapkan hal tersebut.



Apa Kata As Sunnah


Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ


"Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam tanganNya, tidak seorangpun dari umat ini yang mendengarku, baik seorang Yahudi atau Nashrani, lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman terhadap risalahku ini; melainkan ia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153, Ahmad No. 8188, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 280, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 307, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3050, Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 509, 511)


Jika memang semua agama adalah sama, kenapa Rasulullah ﷺ menyebut Yahudi dan Nasrani masuk neraka jika tidak memeluk Islam?Jika memang semua agama adalah sama, kenapa Rasulullah ﷺ mengajak Yahudi yang sakit untuk masuk Islam? Jika memang semua agama sama, kenapa Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada raja-raja Romawi (Nasrani), Persia (Majusi), untuk masuk Islam? .... Bukankah jika sama, maka seharusnya mereka dibiarkan saja dengan agama mereka?


Maka ..., ayat-ayat ini, beserta hadits Nabi ﷺ menunjukkan berbedanya Islam dengan mereka, berbedanya Ahlul Haq dan Ahluk Batil berbedanya Ahlul Kiblat dan selainnya.


Para ulama telah membuat klasifikasi (ashnaaf) mereka sebagai berikut, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Kasani Rahimahullah:


صِنْفٌ مِنْهُمْ يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ أَصْلاً ، وَهُمُ الدَّهْرِيَّةُ الْمُعَطِّلَةُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ ، وَيُنْكِرُونَتَوْحِيدَهُ ، وَهُمُ الْوَثَنِيَّةُ وَالْمَجُوسُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ وَتَوْحِيدِهِ ، وَيُنْكِرُونَ الرِّسَالَةَ رَأْسًا ، وَهُمْ قَوْمٌ مِنَ الْفَلاَسِفَةِ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ الصَّانِعَ وَتَوْحِيدَهُ وَالرِّسَالَةَ فِي الْجُمْلَةِ ، لَكِنَّهُمْ يُنْكِرُونَ رِسَالَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى


Kelompok yang mengingkari adanya pencipta, mereka adalah kaum dahriyah dan mu’aththilah (atheis).
Kelompok yang mengakui adanya pencipta, tapi mengingkari keesaanNya, mereka adalah para paganis (penyembah berhala) dan majusi.
Kelompok yang mengakui pencipta dan mengesakanNya, tapi mengingkari risalah yang pokok, mereka adalah kaum filsuf.
Kelompok yang mengakui adanya pencipta, mengeesakanNya, dan mengakui risalahNya secara global, tapi mengingkari risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah Yahudi dan Nasrani. (Al Bada’i Ash Shana’i, 7/102-103, lihat juga Al Mughni,8/263
Demikian.

Sponsored Links:

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Memelihara Jenggot Menurut Imam Syafi'i

Arti Jomblo Fisabilillah

Abdullah Bin Zubair, Kisah Tentara Allah yang Tangguh