Islam Yang Bisa Mensejahterakan

Sponsored Links:
Sponsored Links:



Sesungguhnya islam benar-benar agama yang dapat menjadi soliusi bagi setiap manusia, baik dari segi hubungan dengan Allah SWT, sebagai maha pencipta dari setiap makhluk hidup yang ada didunia ini, maupun dari segi hubungan dengan sesama manusia sebagai ciptaanNya, karena apapun ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT, itu semua akan menjadikan manusia sebagai makhluk sosial, juga islam yang bisa mensejahterakan manusia tetapi kita sebagai umat manusia jangan pernah lupa bahwa Allah SWT menciptakan hambanya di muka bumi dengan satu tujuan, yaitu beribadah dengan penuh ketundukan kepadanya. Allah berfirman,



islam


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ


”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Ibadah yang disyari'atkan oleh Allah SWT kepada segenap munusia adalah semata-mata demi kemaslahatan manusia itu sendiri, bukan menjadi hajat dan kebutuhan yang diinginkan oleh Allah SWT. Setiap ibadah yang dipersembahkan oleh seorang hamba kepada Allah pada dasarnya memberikan pengaruh dan manfaat positif baginya, baik secara langsung yang dirasakan di dunia ataupun berupa pahala yang menjadi investasinya di sisi Allah SWT. Jika diperhatikan dengan seksama, hampir seluruh ibadah yang disyai'atkan oleh Allah SWT kepada hambanya memiliki dimensi vertikal (hubungan antara hamba dengan Allah) dan dimensi horizontal (hubungan manusia dengan manusia lainnya). Shalat yang dilakukan rutin lima waktu setiap hari, selain merupakan ketaatan kepada Allah, juga memiliki manfaat sosial yang tinggi, di mana Allah menegaskan bahwa shalat itu dapat mencegah dari perbuatan yang keji dan mungkar. Puasa yang dilakukan satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah bagian dari cara Allah menempa seorang yang beriman untuk dapat merasakan secara langsung betapa fakir miskin pedih merasakan lapar dan dahaga. Demikian dengan zakat, Allah mensyari'atkan ibadah ini dalam rangka menjadikan harta yang ada di tangan orang-orang kaya mengalir hingga dapat dirasakan oleh orang-orang fakir miskin. Adapun ibadah haji, tentunya menjadi momentum untuk memperluas hubungan secara internasional, di samping secara langsung juga terdapat syari'at menyembelih hadyu (hewan ternak) untuk dibagikan kepada fakir miskin. Selain ibadah haji, di bulan Dzulhijjah yang mulia ini Allah juga mensyari'atkan kepada kaum muslimin yang memiliki kelebihan harta untuk melaksanakan ibadah qurban. Ibadah ini merupakan syari'at yang telah berlaku semenjak zaman Nabi Ibrahim alaihi as-salam ketika beliau hendak mengorbankan putera beliau yang sangat disayangi, yaitu Isma’il. Ibadah yang dilakukan secara serentak oleh kaum muslimin di seluruh dunia dari tanggal sepuluh hingga berakhirnya hari tasyriq pada tanggal tiga belas Dzulhijjah ini pun memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang sangat luas. Efek Multiplayer Ibadah Qurban Sudah tidak asing disaksikan setiap tahunnya, jika mulai masuk bulan Dzulhijjah atau setidaknya tujuh hari sebelum hari raya Iedul Adha menjelang, di sepanjang trotoar kota, kiri dan kanan diramaikan hewan ternak, kambing, domba dan sapi. Hewan ternak ini ditambat untuk ditawarkan kepada setiap orang yang ingin melaksanakan ibadah qurban. Bahkan di satu sudut wilayah Kelapa Dua Depok, seorang penjual hewan qurban sampai menyulap sebuah showroom mobil miliknya untuk dijadikan kandang sapi selama hari-hari iedul adha. Data statistik menunjukkan bahwa angka permintaan terhadap hewan qurban mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Di tahun 2014, di sejumlah daerah, jumlah permintaan hewan qurban meningkat sebesar 5 sampai 10% dari tahun sebelumnya dan diperkirakan tahun ini meningkat sampai 11% dari tahun 2014. Setidaknya ada empat hal yang menarik diperhatikan terkait ibadah ini dilihat dari sudut pandang sosial dan ekonomi. Pertama, syari'at qurban yang menekankan seorang muslim yang memiliki kelebihan rezeki untuk menyembelih hewan ternak, baik kambing, sapi ataukah unta membuat nilai permintaan (demand) menjadi naik. Hal ini menuntut ketersediaan (supply) hewan tersebut di pasar setiap tahunnya. Dengan kata lain, sesungguhnya syari'at ini membuka lebar peluang bekerja bagi para peternak dengan lebih progresif dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar yang sangat besar dan bersifat jelas (real market). Di sisi lain, peluang ini juga dapat dimanfaatkan oleh setiap muslim yang memiliki modal dengan cara membangun kerjasama dengan para peternak kecil. Tentu, keuntungan yang di dapat oleh masing-masing pihak selanjutnya dapat dikelola pada sektor yang lain sehingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Kedua, syari'at qurban juga tidak hanya membuka peluang bisnis bagi para pemodal besar yang bergerak di bisnis hewan ternak saja. Para pedagang kecil pun mendapatkan berkah yang sama dalam mengambil peluang dari syari'at yang agung ini. Sebagai contoh, pedagang arang, tusukan sate, bumbu masakan khas kambing dan sapi kebanjiran permintaan di hari-hari Idul Adha. Belum lagi pedagang pisau, kampak dan parang atau yang lainnya. Tentu, hal ini akan berakibat positif terhadap keseimbangan usaha mereka di hari-hari berikutnya. Begitu juga dengan lapangan kerja yang lain, seperti penyedia jasa sebagai penjaga kandang, pemasok pakan hewan ternak, hingga jasa transportasi yang menjadi satu paket dalam menyempurnakan aktivitas bisnis hewan qurban ini.


wallahu 'alam


~~~ Ust. Ahmad Musadad LC

Sponsored Links:

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Memelihara Jenggot Menurut Imam Syafi'i

Arti Jomblo Fisabilillah

Abdullah Bin Zubair, Kisah Tentara Allah yang Tangguh