Renungan tentang Sabar, Sebuah Cermin Bagi Hati

Sponsored Links:
Sponsored Links:

Dakwah adalah seni. Di dalamnya, ada pengabdian. Di dalamnya, perlu ilmu. Di dalamnya, perlu kesabaran. Berikut ini adalah sebuah mutiara renungan tentang sabar dalam dakwah oleh Ustadz Abdul Atieq Syarifuddin.


[caption id="attachment_1003" align="alignnone" width="300"]gambar orang merenung - Renungan tentang Sabar, Sebuah Cermin Bagi Hati credit pict : kangdakupDOTwordpressDOTcom[/caption]

Barangkali...


Kita kurang sabar dalam mempelajari Islam.
Akhirnya tidak mengerti bahwa Islam itu syumul.
Akhirnya tidak sadar bahwa Islam juga mengatur bagaimana cara memilih pemimpin.
Akhirnya tidak paham bahwa dalam Islam, memimpin itu ada cara dan jalurnya.


Barangkali...
Kita kurang sabar menjalani syariat Islam.
Bukankah kita diminta menjadi pribadi muslim yang baik dulu?
Keluarga pun menjadi keluarga islami dulu?
Lingkungan pun menjadi lingkungan yang Islami dulu?
Tempat kerja pun kita pergauli dengan akhlak Islami dulu?
Berpolitik pun dengan cara yang Islami dulu??


Barangkali...
Kita kurang sabar dalam berislam.
Walau Islam sebenarnya mengatur dari masalah thoharoh sampe urusan negara.
Walau Islam sebenarnya mengatur masjid dan pemerintah.
Walau Islam sebenarnya mengatur perdagangan dan pengadilan.
Walau Islam sebenarnya mengatur pernikahan dan pendidikan.
Kita kurang sabar belajar Islam akhirnya tidak sadar bahwa Islam itu :
"Inna sholaati wa Nusuki wa Mahyaaya wa Mamaati lillahi Rabbil 'aaalamin"


Kenapa masyarakat milih pemimpin instan daripada olahan tarbiyah puluhan tahun?


Barangkali...
Kita yang mengaku aktifis dakwah ini kurang sabar...
Kurang sabar datang mengaji ke majlis ilmu, giliran ke mall justru tahan sampai mau tutup.
Kurang sabar infaq di jalan dakwah, padahal belanja barang branded tidak tanggung-tanggung.
Kurang sabar nderes hafalan quran, tapi nonton film paling kuat.
Kurang sabar belajar ilmu agama, baca novel paling cepet.
Kurang sabar mendengarkan nasehat, tapi rajin mengkritik orang bahkan debat sampai susah tidur.
Kurang sabar bahwa dakwah itu bukan hanya mengajak orang ke Masjid saja, tapi juga mengubah dari yang dulunya tidak tahu menjadi mengerti.
Kurang sabar dengan lingkungan, ramainya di sosmed saja.
Kurang sabar dengan urusan akhirat, tapi dunia paling semangat.
Kurang sabar menggali isi dakwah, akhirnya sibuk dengan kulitnya dakwah.


Yaa Rabb,
Bimbinglah hati kami.
Rahmatilah kami.


-------------------------


Renungan tentang sabar ini adalah renungan yang baik untuk kita resapi. Karena seorang muslim yang baik adalah mereka yang berhasil dalam sabarnya. Semoga renungan tentang sabar ini mampu menjadi cermin yang baik bagi hati kita untuk melangkah ke depan dengan lebih baik.

Sponsored Links:

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Memelihara Jenggot Menurut Imam Syafi'i

Arti Jomblo Fisabilillah

Abdullah Bin Zubair, Kisah Tentara Allah yang Tangguh