Cara Membentuk Karakter Anak
Pada artikel ini kita akan membahas tentang cara membentuk karakter anak . Sebagian orangtua mengalami kesulitan dengan membentuk karakter anak. Orangtua akan stress. Sementara, anak tidak memiliki karakter yang kita inginkan. Lalu, bagaimana cara membentuk karakter anak yang benar? Seorang anak tak ubahnya seorang dewasa, dimana ketersinggungan dan perasaan ditekan dapat menyelimuti jiwanya ketika mendapatkan perlakuan atau ucapan yang tidak berkenan. Bahkan bentuk kalimat yang motifnya sekadar mengingat sekalipun, bisa membuatnya tidak nyaman. Apalagi jika kalimat atau nada bicara kita cenderung menekan dan mengancam. Maka melulanglailah perasaannya. Dan ini teralami oleh seorang ayah, dimana ia bermaksud mengingatkan putranya untuk memakai sandal. Namun sang anak kemudian mengamuk dan hampir sulit dikendalikan. Alasannya pun sederhana. Si anak merasa tersinggung dan tidak menerima perlakuan ayahnya yang telah mengingatkannya di depan banyak orang. Padahal sang ayah menyampaikannya dengan cara yang lembut dan santun.
Bagi sebagian anak yang bertipikal spontanis dan ekspresif, mendapatkan perlakuan yang tidak berkenan cenderung akan reaktif atau memunculkan ledakan dalam bentuk marah-marah, amukan, tindakan destruktif (merusak benda) maupun agresi fisik. Dan pada titik ledakan yang memuncak, sebagian besar orang tua biasanya kewalahan untuk menangani. Bentuk ledakannya pun bermacam-macam. Tangis yang berlebihan, menjerit-jerit sambil menyalahkan orang tua, berlari bolak-balik sambil menangis keras, berguling, guling, sampai melempar benda.
Sebaliknya, bagi sebagian anak yang bertipikal melankolis, ketika mendapatkan tekanan atau ancaman dari orang dewasa biasanya akan terisak-isak (segukan), mogok bicara, alias diam seribu bahasa, cenderung sulit dibujuk, dan lebih memilih menyendiri.
Maka betapa dahsyat kalimat dan perlakuan kita terhadap ketersinggungan dan kesakithatian anak. Sebaliknya, betapa besar arti kehati-hatian berbicara bagi semua orang tua. Dan ini menjadi niscaya. Hingga akhirnya kita dituntut dan tertuntut untuk lebih cerdas dalam menakar dan memilah frasa yang paling tepat, serta lihai dalam memperkirakan kondisi yang ada.
Anak memang unik. Dan keunikannya terdapat dalam banyak hal. Dalam gagasannya, dalam keinginannya yang kadang-kadang tidak bisa dicegah, dalam marahnya, dalam tangisannya, dalam argumennya. Namun satu tugas besar bagi kita semua adalah memastikan agar mereka berada dalam ranah yang normatif. Selamanya. Inilah susahnya cara membentuk karakter anak.
Dan untuk menciptakan sesosok anak yang normatif, tentu bukan perkara gampang. Melainkan butuh adanya mutual undersntanding (pemahaman yang sama) dari kedua orang tua, butuh lingkungan yang kondusif, butuh penjelasan yang lugas dan masuk akal, butuh rules (aturan) yang konsisten, serta butuh latihan panjang yang kemudian mewujud KEBIASAAN atau dalam istilah lain disebut habbit training.
Jadi, kalau sampai hari ini kita hanya mampu merecoki terhadap apa yang sedang dilakukan atau diminati buah hati seperti main game, menunda-nunda waktu mandi dan lain sebagainya, maka apa yang kita lakukan belum mampu menjadi solusi. Artinya kita belum tahu cara membentuk karakter anak. Permasalahannya, anak memiliki potensi defendable (penolakan) alias mangkir yang cukup tingi terhadap sikap orang tua ketika ia lagi-lagi merasa direcoki atau diganggu atau diceramahi atau diintervensi.
Sebaliknya, jika kita menanamkan kebiasaan sedini mungkin dengan cara yang terus menerus, maka hal ini akan bernilai preventif, dimana pengetahuan, wejangan, tata aturan, tanggung jawab akan benar-benar menginternalisasi pada jiwa anak-anak kita. Sehingga akhirnya menjadi refleks dan tidak ada kekakuan sedikit pun untuk melakukan hal-hal yang benar dan untuk menahan kecenderungan berbuat kasar atau nyeleneh atau menjengkelkan.
Oleh karena itulah, cara membentuk karakter anak dengan meyakini tentang hukum kebiasaan (the low of habit) dimana segala hal yang dilakukan berulang dan menjadi kebiasaan, akan sangat mudah dilakukan. Bahkan menjadi spontan dan otomatis. Sehingga peringatan (reminder) yang disampaikan oleh kita para orang tua, tidak membuat mereka kaget, tersinggung atau merasa direcoki. Sebaliknya, semakin kita banyak berinvestasi kebiasaan-kebiasaan baik pada anak-anak kita, maka tak perlu lagi untuk banyak merecoki kehidupannya yang tengah asyik mereka geluti. Karena mereka akan memiliki alarm tersendiri yang terinternalisasi di lubuk jiwanya. Bahkan ketika mereka tengah asyik main game, nonton, main bersama teman dan lain-lain.
Ingatlah rumus agar kebiasaan anak kita mengkarakter terdiri dari keteraturan (regularly), terencana (purposefully), dan bertahap (methodically). Semoga artikel tentang cara membentuk karakter anak ini berguna.
Oleh al-intima
Comments
Post a Comment