Ambil Positifnya Dari Konflik Anak

Sponsored Links:
Sponsored Links:

Hampir semua anak yang memiliki saudara sudah pasti akan merasakankan konflik, konflik ini bentuknya bisa macam-macam, ada yang hanya berbeda pendapat, rebutan barang, makanan, mainan, hingga yang menggunakan fisik. Jadi, hampir tidak ada satupun anak yang bebas dari pengalaman konflik (berantem). Asumsinya berantem itu sengaja diciptakan Tuhan untuk tujuan baik. Dan ambil positifnya dari konflik anak ini, karena ada kemungkinan ini adalah suatu pembelajaran dimasa kecil bagai mana cara menyelesaikan konflik disat kelak sudah dewasa.


anak berantem


Ya saya ingin mengatakan kepada semua orang bahwa awalnya konflik itu bagi anak-anak baik. Semua anak pasti akan mengalaminya. Karena sehebat apapun orang tua mendidik anak, mereka tidak bisa menghindarkan anak-anaknya dari konflik. Konflik bagi orang dewasa memang tidak baik, tetapi bagi anak, terutama anak-anak usia 12 tahun kebawah, konflik adalah suatu kebutuhan. Bahkan, seorang pakar tumbuh kembang menganggap anak yang tidak pernah bertengkar justru tidak normal. Nah, karena suatu kebutuhan, pengalaman konflik pada anak-anak akan terus berulang. meskipun sebagian besar orang tua tidak menyukainya.


Dari satu pengalamanhidup di masa kecil inilah anak-anak akan (seharusnya) mendapatkan bekal untuk menghadapi konflik hidup dimasa depan.Tidak ada satu manusiapun yang terbebas dari konflik. Oleh karena itu, konflik pada anak seperti sengaja diciptakan oleh Tuhan agar mereka dapat belajar cara mengendalikan konflik dimasa depan. Ada diantara kita yang memiliki kompetensi hebat dibidang pekerjaan yang digeluti,tetapi karena tidak bisa menghadapi konflik, kita menjadi tak nyaman berlama-lama ditempat kerja.


Dalam kehidupan bersaudara, pasti akan ada pertengkaran. Bahkan, mungkin sampai beratus kali lebih, sering dibandingkan dengan kawan sebaya. Hal ini terjadi karena tahu bahwa adik dan kakaknya akan selalu ada, tidak akan pergi. Menurut studi adik kakak yang bermain bersama, meskipun saling mengejek, memiliki hubungan yang lebih dekat ketimbang adik kakak yang bermain terpisah. dengan lebih jelasnya, adik kakak lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah dalam artian tidak mau saling menyapa dan bergaul karena satu membenci yang lain.


Konflik pada awalnya baik bagi anak. Konflik berubah menjadi tidak baik ketika orang tua tidak bisa mengelola konflik tersebut. Apalagi, jika saat terjadi konflik, orang tua yang selalu menyelesaikan masalah. Akhirnya, anak tidak belajar apapun dari pengalaman konflik yang mereka alami. Misalnya saat mereka rebuatan mainan, sebagian orang tua akan menyelasaikannyadengan mengatakan pada si kakak, "Kak, ngalah dong sama adik, adik kan masih kecil."


Dan, bila penyelesaiannya hanya dengan seperti itu, lihatlah, ternyata bukan hanya kita tak melatih anak menghadapi konflik, tetapi kita justru melebarkan konflik. Lihatlah ternyata praktek ketidak adilan juga dapat dimulai dari rumah, bukan? Apakah karena adiknya masih lemah? Sampai usia berapa sdik masih harus dibela? mengapa kebenaran ditentukan dari faktor usia? Mengapa jika kakak yang membuat adiknya kecewa akan dihukum? Tetapi kenapa kalau adik yang melakukannya, dia tidak dihukum?


Misalnya, saat dua orang anak berebut satu buah roti, sebagian orang tua menyelesaikannya dengan cara instan, yaitu dengan membagi roti itu menjadi dua, "yang ini buat kakak, yang itu buat adik." Perhatikanlah praktik ini. Untuk sementara, anak memang akan berhenti dari konflik. Akan tetapi siapa yang akan menyelesaikan masalahnya? Orang tua , bukan? Mengapa bukan anak yang dilatih untuk menyelesaikannya sendiri?


Solusi yang sering dilakukan orang tua adalah selalu membelikan barang yang samauntuk anak supaya mereka tidak berebut. Jika anaknya dua, kuenya selalu ada dua dengan rasa yang sama. Begitu pula dengan mainan, disaat membeli mobil-mobilan, dibelilah mobil-mobilan dengan model yang sama.


Jika solusinya seperti ini akan berdampak pada anak. mereka jadi sulit menentukan identitas diri karena bingung membedakan dirinya dengansaudara kandungnya.


Ayah dan bunda, yuk bantu anak kita mengelola konflik dengan baik. Konflik adalah sarana yang diciptakan Tuhan untuk anak belajar, yaitu belajar mengelola kehidupan. Mari, bimbing mereka mengelola konflik.


Semoga bermanfaat


~~ Abah Ihsan Baihaqi ~~

Sponsored Links:

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Memelihara Jenggot Menurut Imam Syafi'i

Arti Jomblo Fisabilillah

Abdullah Bin Zubair, Kisah Tentara Allah yang Tangguh