Minta Dicarikan Jodoh, bolehkah menurut pandangan Islam?
Minta dicarikan jodoh, bolehkah dalam pandangan Islam ? Rasulullah saw. bersabda kepada Ukaf bin Wida'ah al-Hilali, "Apakah engkau telah beristri, wahai Ukaf?" Ia menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Tidakkah engkau mempunyai budak perempuan?" Ia menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Bukankah engkau sehat lagi berkemampuan?" Ia menjawab, "Ya, alhamdulillah." Rasulullah saw. bersabda, "Kalau begitu, engkau termasuk teman setan, karena engkau mungkin termasuk pendeta nasrani. Hal itu berarti engkau masuk dalam golongan mereka, atau mungkin engkau termasuk golongan kami sehingga hendaklah kamu berbuat seperti yang menjadi kebiasaan kami, sedangkan kebiasaan kami adalah beristri. Orang yang paling durhaka di antara kamu adalah orang yang membujang; orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang. Sungguh celakalah kamu, wahai Ukaf. Menikahlah!" Ukaf lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak akan mau menikah sebelum engkau yang menikahkan aku dengan orang yang engkau sukai." Rasulullah saw. bersabda, "Kalau begitu, dengan nama Allah dan dengan berkah-Nya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum al-Humairi." (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar).
Hadis tersebut mengisahkan kasus Ukaf, seorang pemuda yang tergolong cukup namun belum beristri, bahkan berniat membujang. Oleh Rasulullah, Ukaf ditegur dan diperintahkan untuk menikah. Beliau menyatakan bahwa membujang bertentangan dengan anjuran Islam. Setelah mendapat teguran dari Rasulullah, Ukaf kemudian mengatakan bahwa dia tidak akan menikah sebelum Rasulullah sendiri yang memilihkan jodoh untuknya. Hal ini mengisyaratkan bahwa Ukaf meminta pertolongan kepada Rasulullah untuk mencarikan istri bagi dirinya.
Dari kasus di atas kita memperoleh pelajaran bahwa bila seorang laki-laki atau perempuan tidak dapat mencari sendiri calon istri atau calon suaminya, ia dapat meminta bantuan orang lain untuk mencarikan jodohnya. Ukaf--dalam kasus ini--berterus terang meminta kepada Rasulullah untuk mencarikan jodoh baginya. Beliau kemudian mengabulkan permintaannya sehingga Ukaf akhirnya mendapatkan jodoh.
Seseorang mengalami kesulitan atau tidak mampu mencari jodoh sendiri seperti yang dialami Ukaf dan minta dicarikan jodoh, kemungkinan disebabkan beberapa hal, antara lain :
1. Ia merasa minder meminang meminang perempuan karena pendidikannya rendah, miskin, atau wajahnya yang kurang tampan.
Salah satu dari sebab-sebab ini membuatnya tidak berani meminta seorang perempuan untuk menjadi istrinya. Orang seperti ini dapat meminta bantuan orang ketiga yang dipercayainya untuk mencarikan jodoh baginya.
2. Ia takut melamar perempuan untuk dijadikan istri karena perbedaan lingkungan budaya atau tradisi.
Perbedaan tradisi atau budaya dikhawatirkan akan menjadi kendala dalam menciptakan pergaulan suami istri secara harmonis. Oleh karena itu, yang bersangkutan tidak berani melamar walaupun perempuan itu sangat dicintainya. Hal ini dapat diatasi dengan meminta orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang mau menerima keadaan dirinya dan bersedia menyesuaikan diri dengan tradisi dan budayanya.
3. Ia tidak punya kesempatan untuk memilih jodoh yang benar-benar baik karena sibuk bekerja.
Bila hal ini yang menjadi penyebabnya, dia dapat meminta jasa orang ketiga untuk mencarikan jodoh yang diingkarinya. Cara ini memungkinkan dirinya mendapatkan orang yang hendak dijadikan istri atau suami tanpa membuang waktu kerjanya.
Alasan apa pun yang dikemukakan seseorang yang merasa dirinya sulit mendapatkan jodoh, sebenarnya dapat diatasi dengan langkah tersebut. Muslim atau muslimah tidak perlu merasa malu atau rendah diri meminta tolong kepada orang ketiga untuk mencarikan jodoh karena langkah ini telah dilakukan oleh sahabat Rasulullah, yaitu Ukaf. Sebagaimana Ukaf meminta Rasulullah mencarikan jodoh untuknya, siapa pun dapat melakukan hal yang sama, kapan dan di mana saja. Orang-orang yang dimintai tolong tersebut umumnya akan mengabulkan permintaan yang bersangkutan dengan gembira dan sukarela.
Orang ketiga yang dimintai mencarikan jodoh hendaklah yang dapat dipercaya. Mereka ini harus kita pilih yang akhlaknya baik, amanah, dan tahu persis siapa yang pantas menjadi calon bagi orang yang meminta jasa baiknya, serta memiliki pengaruh dalam lingkungannya sehingga yang diminta menjadi istri atau suami akan mempercayainya. Selain itu, dia harus orang yang cermat dalam engamati kepribadian orang lain agar terhindar dari kecerobohan, misalnya mempercayai orang yang tidak baik akhlak atau ketaatannya dalam beragama. Dia hendaknya juga memiliki pengalaman mencarikan jodoh bagi orang lain.
Biro-biro jodoh yang banyak bermunculan di tengah masyarakat sekarang ini belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kualitas kejujuran, kecermatan, akhlak, dan agamanya. Oleh karena itu, kita perlu meneliti biro-biro seperti ini terlebih dahulu, apakah akhlak dan agama pengurus dan orang yang ditawarkannya baik atau tidak. Kita sebaiknya tidak mudah percaya kepada propaganda mereka sebelum mengetahui betul bagaimana kualitas keislaman dan akhlaknya.
Ringkasnya, seorang laki-laki atau perempuan yang merasa sulit mencari jodohnya hendaklah tidak segan-segan minta dicarikan jodoh kepada orang lain. Insya Allah, dengan perantaraan orang lain, ia akan mendapatkan jodoh yang menjadi harapannya.
Sumber: 15 Cara & Langkah Mendapatkan Jodoh, Drs. M. Thalib
Comments
Post a Comment