Sejarah Rosulullah SAW. Bag 2
Sponsored Links:
Sponsored Links:
Peristiwa pembelahan dada ( Syaqqus Shadr )
Pada saat Rosulullah SAW. berusia 5 tahun, dan pada saat beliau masih dalam perawatan Halimah as-Sa'diyah diperkampungan Bani Sa'ad, terjadilah peristiwa besar yang sekaligus menunjukan tanda-tanda kenabiannya kelak. Peristiwa tersebut dikenal dengan pembelahan dada ( Syaqqus Shadr ).
Suatu ketika, ketika Rosulullah SAW.bermain dengan teman-temannya, tiba-tiba datang malaikat Jibril menghampiri dan menyergapnya. Lalu beliau dibaringkan, kemudian dadanya dibelah, lalu hatinya diambil selanjutnya dikeluarkan segumpal darah darinya, seraya berkata: "Inilah bagian setan yang ada padamu". Kemudian hati tersebut dicuci di bejana emas dengan air zam-zam, setelah itu dikembalikan ketempat semula.
Sementara itu, teman-teman sepermainannya melaporkan kejadian tersebut kepada halimah seraya berkata: " Muhammad dibunuh....Muhammad dibunuh". Maka mereka bergegas menghampiri tempat Rosulullah SAW. semula, disana mereka mendapatkan Rosulullah SAW. dalam keadaan pucat pasi.
Setelah kejadian tersebut, Halimah sangat khawatir terhadap keselamatan Muhammad kecil. Akhirnya tak lama setelah itu, dia memutuskan untuk memulangkannya kepada ibunya dikota Mekkah maka berangkath Halimah ke Mekkah dan dengan berat hati dikembalikannya Rosulullah SAW.kepada ibunya.
Ditinggal ibu tercinta.
Setelah beberapa lama tinggal bersama ibunya, pada usia 6 tahun, sang ibu mengajaknya berziarah ke makam suaminya di Yasrib. Maka berangkatlah mereka keluar dari kota Mekkah menempuh perjalanan sepanjang 500 km, ditemani oleh Ummu Aiman dan dibiayai oleh Abdul mutthlib, ditempat tujuan, mereka menetap selama sebulan.
Setelah itu mereka kembali pulang ke Mekah, namun ditengah perjalanan, ibunya menderita sakit dan akhirnya meninggal diperkampungan Abwa' yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah.
Dibawah asuhan sang kakek.
Sang kakek; Abdul Muththolib, sangat iba terhadap cucunya yang sudah menjadi yatim piatu diusianya yang masih dini. Maka dibawalah sang cucu kerumahnya, diasuh dan dikasihi melebihi anak-anaknya senndiri.
Pada saat itu Abdul Muththolib memiliki tempat duduk khusus dibawah ka'bah, diseorangpun yang berani duduk diatasnya, sekalipun anak-anaknya, mereka hanya berani duduk disisinya. Namun Rosulullah SAW. yang saat itu masih anak-anak justru bermain-main dan duduk diatasnya. karuan saja paman-pamannya mengambilnya dan menariknya. Namun ketika kakek melihat hal tersebut, beliau malah melarang mereka seraya berkata; "Biarkandia, demi Allah, anak ini punya kedudukan sendiri".
Akhirnya Rosulullah kembali duduk dimajlisnya, diusapnya punggung cucunya tersebut dengan suka cita melihat apa yang dia perbuat.
Tapi lagi-lagi kasih sayang kakek tidak berlangsung lamdirasakan oleh Rosulullah SAW. pada masa kecil. Pada saat Rosulullah SAW. berusia 8 tahun, kakenya meninggal di Mekkah. Namun sebelum wafat dia sempat berpesan agar cucunya tersebut dirawat oleh paman dari pihak bapaknya; Abu Tholib.
Dipangkuan pamannya.
Kini Rosulullah SAW. berada dalam asuhan pamannya yang juga sangat mencintainya. Abu tholib merawatnya bersama anak-anaknya yang lain, bahkan lebih disayangi dan dimuliakan. Begitu seterusnya Abu Tholib selalu berada rosulullah Saw. , merawatnya , melindunginya dan membelanya, bahkan hingga beliau telah diangkat menjadi Rosul, hal tersebut berlangsung tidak kurang selama 40 tahun.
Bersama pendeta Buhaira.
Pada saat Rosulullah SAW. berusia 12 tahun, Abu Tholib mengajaknya berdagang kenegri Syam.Sesampainya di perkampungan Bushra yang waktu itu masih wilayah negri Syam, mereka disambut oleh seorang pendetabernama Buhaira. Semua rombongan turunmemenuhi jamuan pendeta Buhaira kecuali Rosulullah SAW.
Pada pertemuan tersebut, Abu Tholib menceritakan prihal Rosulullah SAW. dan sipat-sipatnya kepada pendeta Buhaira. Setelah mendengar ceritanya, sang pendeta langsung memberitahukan bahwa anak tersebut akan menjadi pemimpin manusia sebagai mana yang diketahui ciri cirinya dari kita -kitab dalam agamanya. Maka dia meminta Abu Tholib untuk tidak membawa anak tersebut kenegri Syam, karena khawatir disana orang-orang Yahudi akan mencelakakannya.
Akhirnya Abu Tholib memerintahkan anak buahnya untuk membawa pulang kembaliRosulullah SAW. ke Mekkah.
Bersambung.......
Disarikan dari kitab
Ar-Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyur-Rahman Mubarakfury
penerjemah Ust. Abdullah Haidir
Sponsored Links:
Untuk sejarah Rosulullah SAW. yang selanjutnya yaitu ketika ketika malaikat Jibril membelah dada Rosulullah SAW.kemudian diambil hatinya dan dibersihkan dengan air Zam-zam dan untuk lebih mengetahui kisahnya, kita simak dibawah ini:
Peristiwa pembelahan dada ( Syaqqus Shadr )
Pada saat Rosulullah SAW. berusia 5 tahun, dan pada saat beliau masih dalam perawatan Halimah as-Sa'diyah diperkampungan Bani Sa'ad, terjadilah peristiwa besar yang sekaligus menunjukan tanda-tanda kenabiannya kelak. Peristiwa tersebut dikenal dengan pembelahan dada ( Syaqqus Shadr ).
Suatu ketika, ketika Rosulullah SAW.bermain dengan teman-temannya, tiba-tiba datang malaikat Jibril menghampiri dan menyergapnya. Lalu beliau dibaringkan, kemudian dadanya dibelah, lalu hatinya diambil selanjutnya dikeluarkan segumpal darah darinya, seraya berkata: "Inilah bagian setan yang ada padamu". Kemudian hati tersebut dicuci di bejana emas dengan air zam-zam, setelah itu dikembalikan ketempat semula.
Sementara itu, teman-teman sepermainannya melaporkan kejadian tersebut kepada halimah seraya berkata: " Muhammad dibunuh....Muhammad dibunuh". Maka mereka bergegas menghampiri tempat Rosulullah SAW. semula, disana mereka mendapatkan Rosulullah SAW. dalam keadaan pucat pasi.
Setelah kejadian tersebut, Halimah sangat khawatir terhadap keselamatan Muhammad kecil. Akhirnya tak lama setelah itu, dia memutuskan untuk memulangkannya kepada ibunya dikota Mekkah maka berangkath Halimah ke Mekkah dan dengan berat hati dikembalikannya Rosulullah SAW.kepada ibunya.
Ditinggal ibu tercinta.
Setelah beberapa lama tinggal bersama ibunya, pada usia 6 tahun, sang ibu mengajaknya berziarah ke makam suaminya di Yasrib. Maka berangkatlah mereka keluar dari kota Mekkah menempuh perjalanan sepanjang 500 km, ditemani oleh Ummu Aiman dan dibiayai oleh Abdul mutthlib, ditempat tujuan, mereka menetap selama sebulan.
Setelah itu mereka kembali pulang ke Mekah, namun ditengah perjalanan, ibunya menderita sakit dan akhirnya meninggal diperkampungan Abwa' yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah.
Dibawah asuhan sang kakek.
Sang kakek; Abdul Muththolib, sangat iba terhadap cucunya yang sudah menjadi yatim piatu diusianya yang masih dini. Maka dibawalah sang cucu kerumahnya, diasuh dan dikasihi melebihi anak-anaknya senndiri.
Pada saat itu Abdul Muththolib memiliki tempat duduk khusus dibawah ka'bah, diseorangpun yang berani duduk diatasnya, sekalipun anak-anaknya, mereka hanya berani duduk disisinya. Namun Rosulullah SAW. yang saat itu masih anak-anak justru bermain-main dan duduk diatasnya. karuan saja paman-pamannya mengambilnya dan menariknya. Namun ketika kakek melihat hal tersebut, beliau malah melarang mereka seraya berkata; "Biarkandia, demi Allah, anak ini punya kedudukan sendiri".
Akhirnya Rosulullah kembali duduk dimajlisnya, diusapnya punggung cucunya tersebut dengan suka cita melihat apa yang dia perbuat.
Tapi lagi-lagi kasih sayang kakek tidak berlangsung lamdirasakan oleh Rosulullah SAW. pada masa kecil. Pada saat Rosulullah SAW. berusia 8 tahun, kakenya meninggal di Mekkah. Namun sebelum wafat dia sempat berpesan agar cucunya tersebut dirawat oleh paman dari pihak bapaknya; Abu Tholib.
Dipangkuan pamannya.
Kini Rosulullah SAW. berada dalam asuhan pamannya yang juga sangat mencintainya. Abu tholib merawatnya bersama anak-anaknya yang lain, bahkan lebih disayangi dan dimuliakan. Begitu seterusnya Abu Tholib selalu berada rosulullah Saw. , merawatnya , melindunginya dan membelanya, bahkan hingga beliau telah diangkat menjadi Rosul, hal tersebut berlangsung tidak kurang selama 40 tahun.
Bersama pendeta Buhaira.
Pada saat Rosulullah SAW. berusia 12 tahun, Abu Tholib mengajaknya berdagang kenegri Syam.Sesampainya di perkampungan Bushra yang waktu itu masih wilayah negri Syam, mereka disambut oleh seorang pendetabernama Buhaira. Semua rombongan turunmemenuhi jamuan pendeta Buhaira kecuali Rosulullah SAW.
Pada pertemuan tersebut, Abu Tholib menceritakan prihal Rosulullah SAW. dan sipat-sipatnya kepada pendeta Buhaira. Setelah mendengar ceritanya, sang pendeta langsung memberitahukan bahwa anak tersebut akan menjadi pemimpin manusia sebagai mana yang diketahui ciri cirinya dari kita -kitab dalam agamanya. Maka dia meminta Abu Tholib untuk tidak membawa anak tersebut kenegri Syam, karena khawatir disana orang-orang Yahudi akan mencelakakannya.
Akhirnya Abu Tholib memerintahkan anak buahnya untuk membawa pulang kembaliRosulullah SAW. ke Mekkah.
Bersambung.......
Disarikan dari kitab
Ar-Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyur-Rahman Mubarakfury
penerjemah Ust. Abdullah Haidir
Comments
Post a Comment