Kebiasaan Abu Bakar Siddiq ra.
Sponsored Links:
Sponsored Links:
Ada yang membuat diri Umar bin Khattab ra dilanda rasa penasaran pada sikap khalifah Abu Bakar Siddiq ra setelah dilantik menjadi khalifah paska wafatnya Rasulullah SAW, kala itu. Adalah kebiasaan setelah memimpin sholat subuh berjama'ah di masjid, Abu Bakar tidak pernah lama untuk duduk berzikir setelahnya, pergi begitu saja meninggalkan para sahabatnya, seperti ada hajat yang penting untuk beliau lakukan.
Ada rasa penasaran pada diri Umar bin khattab ra. sehiungga pada suatu hari, beliau bermaksud untuk "membuntuti" sang khalifah Abu Bakar Siddiq ra, apa gerangan yang selalu membuatnya tergesa-gesa meninggalkan masjid sepagi itu. Bukan Umar bin khattab kalau penasarannya tidak berujung mengantarnya mencari jawaban.
Subuh buta kali itu Umar bin Khattab ra benar-benar membuntuti kemana arah sang khalifah pergi, apakah pulang ke rumah karena ada hajat yang harus ditunaikannya?... Ternyata tidak. Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah dan mendatangi sebuah rumah yang kumuh dan rusak. Setelah mengetuk dan mengucapkan salam beliau masuk kedalam rumah tersebut.
Umar bin Khattab ra memperhatikan betul apa yang sedang dilakukan khalifah (pengganti) Rasulullah saw tersebut, sembari dalam hatinya muncul pertanyaan, untuk apa dan apa yang dilakukan khalifah di rumah itu. Beberapa lama menunggu akhirnya Abu Bakar ra keluar dari rumah tersebut menjelang terbitnya fajar.
Tak merasa puas dengan itu, Umar bin Khattab ra akhirnya memberanikan diri pada siang harinya mendatangi rumah tersebut karena ingin tahu apa yang tadi dilakukan sang khalifah. Dengan penuh rasa penasaran beliau akhirnya mengetuk pintu dan salam, suara perempuan tua yang lirih menjawab salamnya dan mempersilahkan dirinya masuk.
Seorang perempuan tua renta yang matanya buta sedang duduk lemah disana, kemudian Umar memperkenalkan dirinya kepada perempuan tua tersebut dan disambut hangat. Umar dengan penuh kelembutan bertanya kepadanya,
"Wahai ibu, siapakah yang mengurus dirimu seorang diri ?", tanya Umar bin khattab.
Dan ibu tua itu menjawabnya, "Ada yang selalu mengurusku setiap pagi dia datang ke rumahku, dia langsung menyapukan lantai rumahku dan biasanya dia datang membawaku makanan atau dia memasakkan makanan untukku disini dan setelah itu dia meninggalkan rumahku, begitu yang dia lakukan setiap hari," terang perempuan tua tersebut.
Lirih hati Umar bin Khattab yang terkenal keras itu dan langsung bertanya, "Tahukan siapa orang yang melayanimu setiap hari itu?", tanya Umar bin khattab. " Dia tidak pernah memberitahuku walau aku menanyakannya, yang aku tahu dia adalah orang yang berhati baik," jawab perempuan tua tersebut.
Umar bin Khattab menangis dan mengeluarkan satu ungkapannya yang abadi hingga hari ini.
"DUHAI KHALIFAH RASULULLAH, ENGKAU SUNGGUH BENAR-BENAR MEMBUAT KHALIFAH SETELAHMU AKAN MENJADI BERAT."
Umar meninggalkan rumah tersebut dengan isak tangis dan kagumnya beliau dengan Khalifah Abu Bakar. Kalau khalifah saja standar amalnya seperti ini, bagaimana lagi dengam penggantinya kelak suatu saat apakah bisa mempertahankan atau diatasnya lagi.
Wallahu a'lam
(Syukri Wahid)
Sponsored Links:
Seandainya para pemimpin dijaman sekarang mengambil pelajaran dari kepemimpinan Rosulullah dan para sahabatnya, sudah barang tentu tidak ada lagi yang namanya orang yang kesusahan untuk sekedar makan, karena pada jaman kekhalifahan, turun langsung melihat kondisi rakyatnya, terkadang mereka langsungsung yang melayani rakyatnya, karena yang namanya pemimpin itu bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani rakyatnya, seperti dalam kisah kebiasaan Abu Bakar Siddiq ra. ini, beliau senantiasa mendatangi rumah orang tua renta, buta dan beliau senantiasa melayaninya.
Ada yang membuat diri Umar bin Khattab ra dilanda rasa penasaran pada sikap khalifah Abu Bakar Siddiq ra setelah dilantik menjadi khalifah paska wafatnya Rasulullah SAW, kala itu. Adalah kebiasaan setelah memimpin sholat subuh berjama'ah di masjid, Abu Bakar tidak pernah lama untuk duduk berzikir setelahnya, pergi begitu saja meninggalkan para sahabatnya, seperti ada hajat yang penting untuk beliau lakukan.
Ada rasa penasaran pada diri Umar bin khattab ra. sehiungga pada suatu hari, beliau bermaksud untuk "membuntuti" sang khalifah Abu Bakar Siddiq ra, apa gerangan yang selalu membuatnya tergesa-gesa meninggalkan masjid sepagi itu. Bukan Umar bin khattab kalau penasarannya tidak berujung mengantarnya mencari jawaban.
Subuh buta kali itu Umar bin Khattab ra benar-benar membuntuti kemana arah sang khalifah pergi, apakah pulang ke rumah karena ada hajat yang harus ditunaikannya?... Ternyata tidak. Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah dan mendatangi sebuah rumah yang kumuh dan rusak. Setelah mengetuk dan mengucapkan salam beliau masuk kedalam rumah tersebut.
Umar bin Khattab ra memperhatikan betul apa yang sedang dilakukan khalifah (pengganti) Rasulullah saw tersebut, sembari dalam hatinya muncul pertanyaan, untuk apa dan apa yang dilakukan khalifah di rumah itu. Beberapa lama menunggu akhirnya Abu Bakar ra keluar dari rumah tersebut menjelang terbitnya fajar.
Tak merasa puas dengan itu, Umar bin Khattab ra akhirnya memberanikan diri pada siang harinya mendatangi rumah tersebut karena ingin tahu apa yang tadi dilakukan sang khalifah. Dengan penuh rasa penasaran beliau akhirnya mengetuk pintu dan salam, suara perempuan tua yang lirih menjawab salamnya dan mempersilahkan dirinya masuk.
Seorang perempuan tua renta yang matanya buta sedang duduk lemah disana, kemudian Umar memperkenalkan dirinya kepada perempuan tua tersebut dan disambut hangat. Umar dengan penuh kelembutan bertanya kepadanya,
"Wahai ibu, siapakah yang mengurus dirimu seorang diri ?", tanya Umar bin khattab.
Dan ibu tua itu menjawabnya, "Ada yang selalu mengurusku setiap pagi dia datang ke rumahku, dia langsung menyapukan lantai rumahku dan biasanya dia datang membawaku makanan atau dia memasakkan makanan untukku disini dan setelah itu dia meninggalkan rumahku, begitu yang dia lakukan setiap hari," terang perempuan tua tersebut.
Lirih hati Umar bin Khattab yang terkenal keras itu dan langsung bertanya, "Tahukan siapa orang yang melayanimu setiap hari itu?", tanya Umar bin khattab. " Dia tidak pernah memberitahuku walau aku menanyakannya, yang aku tahu dia adalah orang yang berhati baik," jawab perempuan tua tersebut.
Umar bin Khattab menangis dan mengeluarkan satu ungkapannya yang abadi hingga hari ini.
"DUHAI KHALIFAH RASULULLAH, ENGKAU SUNGGUH BENAR-BENAR MEMBUAT KHALIFAH SETELAHMU AKAN MENJADI BERAT."
Umar meninggalkan rumah tersebut dengan isak tangis dan kagumnya beliau dengan Khalifah Abu Bakar. Kalau khalifah saja standar amalnya seperti ini, bagaimana lagi dengam penggantinya kelak suatu saat apakah bisa mempertahankan atau diatasnya lagi.
Wallahu a'lam
(Syukri Wahid)
Comments
Post a Comment