Mengapa Tidak Menelpon Ayah?

Sponsored Links:
Sponsored Links:

Kisah ini diceritakan oleh seorang wanita, yang sudah menikah dan mempunyai anak, sebut saja ibu UQ, dia bercerita kepada saya, tentang orang tuanya (dalam hal ini ayahnya) yang sungguh membuat saya merenung panjang. Apakah saya akan menjadi ayah seperti yang dalam kisah tersebut, yaitu ayahnya mengatakan mengapa tidak menelpon ayah?. Saya pikir kisah inipatut diketahui oleh para ayah lainnya.


Ayah dan ibu saya sekarang sudah sepuh. Keempat anaknya, tiga laki-laki dan saya satu-satunya anak perempuan, sudah berkeluarga dan terpisah dengan mereka. Pada suatu hari, ayah saya protes pada ibu kami, denagan berkata, "Mengapa setiap anak-anak telpon lalu saya angkat, selalu yang pertama ditanyakan adalah 'ibu, mana, pak?' Ibu sehat, pak? atau pak, maaf pak saya mau berbicara dengan Ibu. Selalu yang dicari ibunya, sedangkan saya yang mengkat telpon ditanya kabarnya pun tidak".

Begitulah cerita ibu kepada kami, anak-anaknya. Tanpa kami sadari, memang seperti itulah yang terjadi. Kehadiran ibu sangatlah berarti bagi kami, dan kami lebih dekat dan lebih nyaman dengan ibu. Dengan bijak ibu memberi saran kepada kami agar lebih peduli kepada ayah. Dihari tuanya setelah 10 tahun pensiun, ayah kami tidak banyak kegiatan, sehingga ayah sering merasa kesepian.

Kami bukan tidak sayang kepada ayah. Keduanya kami sayangi, permasalahannya dari kecil kami selalu dekat dengan ibu, karena 90% kami dirawat dan didik oleh ibu yang memang memilih jadi ibu rumah tangga. Ayah kami seorang aparat, waktunya banyak tercurah untuk pekerjaannya sebagai abdi negara.Sehingga ayah sering pulang larut malam. Bahkan hari liburpun ayahyah sering diharuskan berdinas.

Sewaktu muda dulu, ayah tidak menyadari bahwa dia jarang sekali bercenkrama dengan atau berdiskusi dengan anak-anaknya. Waktunya dihabiskan diluar rumah, dengan dalih pekerjaan. Hal ini yang membuat kami tidak dekat dengan beliau.

Kini dimasa tuanya, ayah mengisi hari-hari dirumah dengan rasa kesepian dan jauh dari anak-anaknya.

Untuk ayahku tercinta, maafkan atas sikap kami. Sungguh bukan maksud kami tidak peduli. Kami berjanji untuk lebih memperhatikan ayah. Bagi kami ayah dan ibu adalah segalanya. Kami berharap, dihari senja ini, ayah dan ibu dapat berbahagia menyaksikan anak-anaknya, berhasil dalam karier dan rumah tangga. Dan, semoga kami bisa menjadi orang tua ysng baik bagi ansk-anak kami.

Ayah, ibu.... perasaan tidak bisa dibohongi. Kasih sayang dan cinta (mahabbah) bisa terjalin dimulai dari hal yang sederhana, yaitu kedekatan emosional. Kedekatan emosional antara orang tua dan anakdapat tercipta dengan adanya interaksi yang inten antar keduanya.Orang tua harus sering hadir bersama anak, artinya saat  didekat anak, orang tua tidak dicampuri denagan urusan dapur, cucian, pekerjaan, facebook, bbm, laptop, televisi dan lain sebagainya. Kebersamaan dengan anak adalah awal untuk menumbuhkan perasaan kasih sayang terhadap orang tuanya. Ketika tersedia kebersamaan, perhatian pun akan mudah tumbuh.

Itulah satu kisah. yang semoga dengan kisah seperti ini bagi para orang tua, terutama ayah bisa lebih dekat lagi dengan anak-anaknya, untu meluangkan waktu beriteraksi dengan anak-anaknya.

~~~ Abah Ihsan Baihaqi ~~~
Sponsored Links:

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Memelihara Jenggot Menurut Imam Syafi'i

Arti Jomblo Fisabilillah

Abdullah Bin Zubair, Kisah Tentara Allah yang Tangguh