Mengenal Sosok Ali Bin ABu Thalib

Sponsored Links:
Sponsored Links:


Para sejarawan yang alim dan jernih hati, hampir sepakat, bahwa kebenaran lebih dekatberada di pihak 'Ali, Radhiyallahu'Anhu. Muawiyah dan kelompoknya adalah kelompok pembangkang, yang telah di isyaratkan oleh Nabi. Hanya saja, itu tidak mengeluarkan mereka dari keislaman dan jama'ah kaum muslimin.


Dan kita tetap belajar banyak dari seorang Mu`awiyah.
Seperti hari yang dikisahkan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya. Majlis Mu'awiyah sedang ramai dihadiri orang-orang yang telah berdamai, berkat kelapangan hati Al-Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib, yang beliau sendiri wafat, ditikam oleh seorang Khawarij yang dendam dan zalim. 'Abdurrahman ibn Muljam. Dimajlis Mu'awiyah hari itu, hadir sosok istimewa. Orang itu, Dhirar ibn Dhamrah Al-Kinani, adalah leleki yang selalu berada dekat 'Ali bin Abi Thalib ketika `Ali dan mu'awiyah berseteru di Shiffin.

Dan hari ini Mu'awiyah sekali lagi hendak bercermin.

"Wahai Dhirar," ucap Mu'awiyah, " Sifatkanlah padaku tentang 'ali."

"Apakah engkau akan memaafkanku nanti, hai Amirul Mukminin, jika ada hal yang tak berkenan dihatimu?"

"Baiklah, aku tidak akan marah kepadamu."

Maka dhirar bangkit dari duduknya dan berkata, "Kalau sudah semestinya aku sifatkan, maka 'Ali itu, Demi Allah, adalah jauh pandangannya dan teguh cita-citanya, kata-katanya pemutus, hukumannya adil, ilmu terpancar dari sekitarannya, dan hikmat terus berbicara dari terus liku-likunya.

"Dia," lanjut Dhirar sambil setengah menerawang, "Senantiasa membelakangi dunia dan kemewahannya. Dia, demi Allah, adalah kaya dalam ibaratnya, jauh pemikirannya, mengangkat kedua tangan seraya berkata-kata memberi nasehat kepada dirinya. Pakaian yang kasar itulah yang sering dipakainya, dan makanan yang rendahlah yang selalu diasupnya."

Dhirar menghela nafas.

" 'Ali tidaklah berbeda dengan salah seorang diantara kami. Dia akan mengajak duduk bersamanya bila kami datang, dan selaalu mengulurkan bantuan bila kami menadahkan tangan. Meskipun dia terlalu akrab dengan kami, dan selalalu duduk bersama-sama kami, namun tidak pernah berkata-kata dengan kami, melainkan penuh dengan kehebatan. Jika dia tersenyum, maka senyumannya seperti mutiara yang berkilauan. Dia selalu menghormati ahli agama, suka mendampingkan diri kepada orang miskin. Orang yang kuat tidak akan berharap akan terlepas dari kesalahannya, dan orang yang lemah tidak putus asa dari keadilannya."

"Aku bersaksi,"Lanjut Dhirar dengan telunjukteracung dan mata berkilat,"Bahwa aku telah melihatnya dalam keadaan yang sungguh mengharukan .Ketika itu ,malam telah menabiri alam dengan kegelapan,dan bintang-bintang menyiram sekitaran dengan cahayanya.Adapun dia masih tetap duduk di mihrob tempat sembahyangnya,tangannya terus menggenggam janggutnya,dia kelihatan sangat gelisah seperti gelisahnya orang yang menanggung perkara yang besar.Dan dia menangis,seperti ratapan orang yang patah hati.Telingaku masih terngiang2 akan suaranya hingga kini.Dia mengatakan,"Rabbi!Rabbi!  Ya Rabbi!"

" 'Ali", kata Dhirran, "Terus bermunajat kepada Allah dengan mengadukan hal yang berbagai macam. Setelah itu, dia berkata pula kepada dunia, "Hai Dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau datang kepadaku! Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah engkau sangat menginginkanku? Enkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankanku! tipulah orang lain! Aku tak memiliki urusan denganmu! Aku telah menceraikan kamu tiga kali, yang sesudahnya tak ada rujuk lagi. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu sudah berlaku! Ah....Sayang, sangat sedikit bekal di tangan, jalan begitu panjang, perjalanan masih jauh,  dan tujuan sukar tercapai!"

Itulah sekilas tentang kehidupan sahabat Rosul dan juga sebagai menantunya, semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini, dan boleh saja kita mencari kehidupan dunia, tetapi janganlah dunia dijadikan tujuan hidup akhir, karena tujuan akhir kita adalah akhirat.

Semoga bermanfaat

Dikutip dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah"

~~~ Salim A. Fillah ~~`

 
Sponsored Links:

Comments

Popular posts from this blog

Hukum Memelihara Jenggot Menurut Imam Syafi'i

Arti Jomblo Fisabilillah

Abdullah Bin Zubair, Kisah Tentara Allah yang Tangguh