Mencontoh Kesabaran Bilal Yang Pemaaf
Sponsored Links:
Sponsored Links:
Bismillahirrahmanirrahim
Sahabatku sebagai sesama manusia yang mempunyai iman kepada Allah dan RosulNya, jangan lah kita saling memaki atau merendahkan orang lain, karena kita tidak akan tahu, bisa saja yang kita hina itu lebih mulia dihadapan Allah Swt. Sebagaimana yang terjadi pada kisah Abu Dzar Al- Ghiffari dan Bilal.
Peristiwa itu terjadi berawal dari kesalahan Abu Dzar Al- Ghiffari pada Bilal. Dia merasa Bilal tidak melakukan pekerjaannya secara utuh, bahkan seakan membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri, Abu Dzar kecewa, dan sayangnya, dia tidak dapat menahan diri, sehingga dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Abu Dzar sempat berteriak melengking , “Hai anak budak hitam!”
Rosulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas, bagaikan petir menyambar, beliau menghampiri dan menegur Abu dzar. “Engkau!” sabdanya dengan telunjuk mengarah pada Abu Dzar, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliah!”
Maka Abu Dzar yang dikejutkan dengan hakikat dan disergap rasa bersalah, dia langsung bersujud dan meminta bilal untuk menginjak kepalanya, dia berkata: “Injak kepalaku ini bilal! Demi Allah kumohon injaklah!”. Bahkan Abu Dzar sampai merintih memohon pada Bilal, "Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sipat jahiliah dari jiwaku."
Abu Dzar terus menerus menangis, isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu, dia tersungkur sujud dihadapan Bilal, supaya Bilal mau menginjak wajahnya.
Abu Dzar berulang-ulang memohon. Tapi Bilal tetap tegak mematung, dia marah, tapi juga terharu.“Aku memaafkan Abu Dzar ya Rosulullah,” kata Bilal. “Dan biarlah urusan ini tersimpan disisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak.”
Hati Abu Dzar rasanya perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebusnya didunia, Alangkah tidak nyaman menelusuri sisa umur, dengan rasa bersalah yang tak terlupakan.
Demikianlah kisah Abu Dzar yang mulia, yang menyesali atas ucapannya dan Bilal yang sabar dan dengan ikhlas memaafkannya,
Semoga kisah ini menjadi ibrah buat kita, agar nantinya kita selalu berhati-hati dalam berkata-kata, terlebih menghina orang lain,
Disadur dari buku, Dalam Dekapan Ukhuwah
---- Salim A. Fillah---
Sponsored Links:
Sahabatku sebagai sesama manusia yang mempunyai iman kepada Allah dan RosulNya, jangan lah kita saling memaki atau merendahkan orang lain, karena kita tidak akan tahu, bisa saja yang kita hina itu lebih mulia dihadapan Allah Swt. Sebagaimana yang terjadi pada kisah Abu Dzar Al- Ghiffari dan Bilal.
Peristiwa itu terjadi berawal dari kesalahan Abu Dzar Al- Ghiffari pada Bilal. Dia merasa Bilal tidak melakukan pekerjaannya secara utuh, bahkan seakan membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri, Abu Dzar kecewa, dan sayangnya, dia tidak dapat menahan diri, sehingga dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Abu Dzar sempat berteriak melengking , “Hai anak budak hitam!”
Rosulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas, bagaikan petir menyambar, beliau menghampiri dan menegur Abu dzar. “Engkau!” sabdanya dengan telunjuk mengarah pada Abu Dzar, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliah!”
Maka Abu Dzar yang dikejutkan dengan hakikat dan disergap rasa bersalah, dia langsung bersujud dan meminta bilal untuk menginjak kepalanya, dia berkata: “Injak kepalaku ini bilal! Demi Allah kumohon injaklah!”. Bahkan Abu Dzar sampai merintih memohon pada Bilal, "Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sipat jahiliah dari jiwaku."
Abu Dzar terus menerus menangis, isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu, dia tersungkur sujud dihadapan Bilal, supaya Bilal mau menginjak wajahnya.
Abu Dzar berulang-ulang memohon. Tapi Bilal tetap tegak mematung, dia marah, tapi juga terharu.“Aku memaafkan Abu Dzar ya Rosulullah,” kata Bilal. “Dan biarlah urusan ini tersimpan disisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak.”
Hati Abu Dzar rasanya perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebusnya didunia, Alangkah tidak nyaman menelusuri sisa umur, dengan rasa bersalah yang tak terlupakan.
Demikianlah kisah Abu Dzar yang mulia, yang menyesali atas ucapannya dan Bilal yang sabar dan dengan ikhlas memaafkannya,
Semoga kisah ini menjadi ibrah buat kita, agar nantinya kita selalu berhati-hati dalam berkata-kata, terlebih menghina orang lain,
Disadur dari buku, Dalam Dekapan Ukhuwah
---- Salim A. Fillah---
Comments
Post a Comment